Your Database Is a Gold Mine

Database yang dianggurin itu cuan yang lagi nunggu dijemput.

Tahun 2023, gue lagi pegang marketing di TechSoup Indonesia.

Di tahun itu, revenue kami naik hampir 2x.
Dan kenaikannya gak datang dari customer baru.

Customer baru malah turun dibanding tahun sebelumnya.

Terus cuannya dari mana?

👉 Dari database yang selama ini cuma didiemin.

======

Sedikit konteks dulu.

TechSoup itu program yang bantu NGO dapat akses software kayak Google, Microsoft, Adobe, AWS, sampai Zoom.
Sebagian gratis, sebagian lagi dapat diskon khusus NGO.

Alurnya simpel:
NGO daftar, diverifikasi, lalu bisa klaim produk yang mereka butuhin.

Kami punya 4.000+ NGO yang udah qualified.
Udah daftar. Udah lolos verifikasi. Tinggal klaim.

Tapi kebanyakan belum klaim apa-apa.

Awalnya gue pikir mereka gak butuh.
Ternyata salah.

Mereka cuma gak tahu produk apa aja yang tersedia.
Dan gak ada yang ngingetin.

Bayangin lo bikin kartu member di sebuah toko.
Habis itu tokonya gak pernah ngabarin apa-apa.
Gak ada promo, gak ada info produk baru, disapa pun enggak.

Lama-lama lo lupa pernah daftar.

Ini kejadian di hampir semua bisnis.
Kita capek-capek ngumpulin kontak, terus kontaknya ditaruh di spreadsheet.

Dan di situ mereka tinggal. Selamanya.

======

Kenapa kita suka nyuekin database sendiri?

Jujur aja,

👉 Customer baru itu lebih seksi
👉 “Leads bulan ini naik” enak banget dilaporin
👉 “Ngajak ngobrol customer lama” kedengarannya kayak gak ngapa-ngapain

Database juga sering dianggap udah beres.
Orangnya udah masuk, checklist dicentang, next.

Dan yang paling parah, gak ada sistemnya.
Follow-up nunggu ada yang inget.
Kalau lagi sibuk? Ya udah, lewat.

Padahal orang di database lo udah ngelewatin bagian paling susah.
Mereka udah cukup percaya sama lo sampai mau ngasih datanya.

Lo tinggal ngasih alasan buat mereka balik.

======

Terus gue ngapain?

Gue bikin satu email sequence di GetResponse, isinya 25 email.

Satu email, satu produk.
Jadi tiap email fokus bahas satu hal secara spesifik.

👉 Email khusus Zoom
👉 Email khusus Adobe
👉 Email khusus AWS
👉 Dan seterusnya

Google for Nonprofits dan Microsoft dapat jatah dua email karena paling banyak dicari.

Kenapa gak digabung aja semua dalam satu email?

Karena gue gak tahu tiap NGO butuhnya apa.
NGO pendidikan sama NGO lingkungan kebutuhannya beda jauh.

Daripada nebak-nebak, mending gue kasih mereka 25 kesempatan buat nemu yang pas.

Dan sequence ini jalan sendiri.
Setiap NGO yang qualified langsung masuk.
Gak ada yang perlu inget, gak ada yang perlu ngirim manual.

4.000+ NGO × 25 email
👉 100 ribu lebih email yang jalan tanpa gue nulis ulang satu pun.

======

Hasilnya?

Revenue tahun itu naik hampir 2x.

Produk dengan nilai transaksi terbesar:

👉 Amazon
👉 Adobe
👉 Microsoft

Nah, ini bagian lucunya.

Google, yang gue kasih jatah dua email, malah gak masuk tiga besar.
Amazon justru paling atas.

Kalau gak ada sequence ini, gue bakal terus yakin produk andalannya Google.
Datanya bilang lain.

======

Oke, terus lo mulai dari mana?

Lo gak perlu langsung bikin 25 email. Santai.

Kalau lo lagi cari cara memanfaatkan database pelanggan, mulai dari sini:

👉 Hitung dulu. Berapa kontak yang lo punya? Berapa yang pernah beli? Berapa yang udah lama banget gak lo sapa?
👉 Tulis semua yang bisa lo tawarin. Produk, layanan, kelas, template, konsultasi. Tiap item itu calon satu email.
👉 Tentuin kapan orang masuk sequence. Bisa pas download freebie, habis pembelian pertama, atau pas join member.
👉 Siapin cara ngukurnya. Bandingin revenue dan produk yang laku sebelum dan sesudah sequence jalan.

Learning-nya:

👉 Database yang dianggurin itu cuan yang lagi nunggu dijemput.
👉 Orang yang udah kenal sama lo jauh lebih gampang diajak balik daripada orang yang baru pertama kali lihat bisnis lo.

======

Yang sering ditanyain

Apa itu database pelanggan?
Kumpulan data orang yang pernah berinteraksi sama bisnis lo: pembeli, subscriber, member, atau leads.

Apa bedanya email sequence sama newsletter?
Newsletter dikirim ke semua orang di waktu yang sama.
Email sequence jalan otomatis sesuai kapan orang masuk, jadi tiap orang dapat urutan yang sama dari awal.

Idealnya berapa email dalam satu sequence?
Tergantung berapa banyak yang bisa lo tawarin.
Kalau produk lo cuma satu dua, mulai dari beberapa email dulu, terus tambah sambil lihat datanya.

======

P.S. Punya 2.000+ kontak di database yang udah lo kumpulin, tapi gak tahu mau diapain? Gue bisa bantu bikinin email sequence-nya, biar database itu ngasilin cuan buat lo. Lo gak perlu pusing mikirin isi emailnya harus apa atau customer lo harus diapain. Gue yang urus. Lo fokus aja sama kerjaan atau bisnis lo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One Email. Better Thinking.

Bergabunglah dengan buletin gratis yang dirancang untuk memicu kejelasan, rasa ingin tahu, dan pemikiran yang lebih mendalam.

Subscription Form

Kami juga akan mengirimkan viral hook terbaru dan marketing insight dari seminggu terakhir ke email kamu setiap hari Kamis.