SEO di Zaman AI, Masih Dibutuhkan Kah?

SEO di Zaman AI, Masih Dibutuhkan Kah?

Belakangan, pertanyaan ini sering muncul: “Sekarang orang cari info di ChatGPT dan Gemini. Ngapain masih optimasi SEO?”

Pertanyaan bagus. Tapi kita mesti lihat datanya dulu biar jawabannya gak asal.

Jawaban singkatnya: SEO di zaman AI masih dibutuhkan, tapi tugasnya beda. Dulu fokusnya trafik. Sekarang fokusnya dikenal, dikutip, dan bisa jadi lead.


Klik dari Google emang lagi turun

Nah, ini yang bikin banyak orang skeptis sama SEO. Dan emang sih, datanya gak enak dilihat.

Ahrefs ngecek 300.000 keyword. Hasilnya, kalau di atas hasil Google muncul AI Overview (jawaban singkat dari AI), halaman di posisi 1 kehilangan sekitar 58% kliknya, dibanding kalau AI Overview-nya gak ada. Ini data per Desember 2025.

Dan yang kena bukan cuma posisi 1:

Posisi di Google Penurunan klik
Posisi 1 -58%
Posisi 2 -50,8%
Posisi 10 -19,4%

Jadi ranking tinggi aja udah gak cukup buat jamin klik. Tapi, ini baru korelasi ya, belum tentu 100% gara-gara AI Overview.


Tapi orang belum pindah 100% ke AI

Terus, katanya sekarang semua orang udah pindah ke AI, kan?

Belum tentu juga. Estimasi SparkToro, ChatGPT ngolah sekitar 66 juta prompt mirip pencarian per hari. Google? Sekitar 14 miliar pencarian. Beda jauh banget, kira-kira 210 kali lipat. BrightEdge juga nyatet trafik yang datang dari AI masih di bawah 1%.

Itu semua perkiraan, dan AI akan bergerak lebih cepet. Tapi buat sekarang, Google masih sumber trafik utama website. Jadi “tinggalin SEO” saat ini masih belum relate.


Terus SEO-nya sekarang ngapain?

Yang perlu ditambah satu hal: bikin konten gampang dikutip AI. Namanya GEO (Generative Engine Optimization). Bukan pengganti SEO, cuma tambahan di atasnya.

Istilah ini lahir dari paper peneliti Princeton dan kawan-kawan. Mereka nyoba sembilan cara optimasi konten di sekitar 10.000 pertanyaan. Hasilnya:

  • Nambah sumber, kutipan, dan statistik bikin konten lebih sering muncul di jawaban AI, naiknya sekitar 30 sampai 40%.
  • Keyword stuffing, jurus lama SEO, hampir gak ngaruh.

Tapi jangan langsung ngarep 40% ya. Itu angka tertinggi, bukan rata-rata, dan ditesnya pun di kondisi penelitian, bukan di lapangan.

Terus langkah awalnya apa? Ini yang bisa langsung dicoba:

  • Jawab langsung. Jawaban dari pertanyaan pelanggan taruh di paragraf pertama.
  • Kasih angka dan sumber asli. Jangan cuma klaim.
  • Pasang FAQ isinya pertanyaan yang beneran sering ditanya.
  • Bangun nama brand, supaya orang nyari langsung nama brand-nya.
  • Tes langsung. Tanya ChatGPT, Gemini, dan Perplexity pakai 10 pertanyaan yang biasa ditanya pelanggan, lalu catat siapa yang disebut.

Google Ads masih oke gak?

Prediksinya: masih oke, karena AI di Google itu akan jadi placement baru aja.

Google udah mulai masang iklan di AI Overviews dan AI Mode. Yang kebagian itu kampanye yang udah jalan: Performance Max, Shopping, dan Search dengan broad match. Jadi belinya tetap lewat akun Google Ads yang sama, bukan platform baru.

Cuma ada satu yang berubah: klik iklan di pencarian informasi makin susah. Seer Interactive ngecek 3.119 query dari 42 organisasi, dan CTR iklan di pencarian yang ada AI Overview-nya anjlok dari 19,7% jadi 6,34%. Tapi ini pencarian informasi ya, bukan pencarian orang yang udah niat beli.

Dari akun yang dikelola langsung, pencarian yang udah niat beli masih jalan bagus. Contohnya Bandar Kurma: sejak 2021 terjual sekitar 192 ton kurma senilai sekitar Rp8 miliar, dengan total spend Google Ads sekitar Rp160 juta. Padahal penjualan terjadi pada 2-3 bulan mendekati bulan ramadhan saja.

Sarannya:

  • Ukur dari konversi (CPL, CPA, ROAS), bukan CTR saja.
  • Utamakan keyword yang udah niat beli. Buying Keyword.
  • Bikin landing page yang spesifik, karena tiap klik sekarang lebih berharga.
  • Tes fitur otomatis kayak AI Max atau broad match, tapi pakai budget kecil dulu.
  • Jangan naikin atau matiin kampanye cuma gara-gara satu metrik.

Satu lagi: ChatGPT juga udah mulai nyoba pasang iklan. Jadi “AI cuma placement” itu bener buat sekarang, tapi bisa berubah cepet.

Belum yakin SEO, website, dan iklan udah siap buat zaman AI? Yuk ngobrol bareang aja, kita bahas satu-satu. Langsung klik disini ya 👉 Booking 1on1 Call

Jadi, intinya apa?

  • SEO masih dibutuhkan. Tapi ukurannya bukan trafik doang, lihat juga lead dan penjualannya.
  • Tambahin GEO. Konten yang spesifik, ada angka, dan jelas sumbernya lebih gampang dikutip AI.
  • Google Ads masih oke buat orang yang udah niat beli, asal diukur dari konversi.
  • Jangan taruh semua telur di satu mesin pencari. Database email dan WhatsApp itu aset milik sendiri. Caranya pernah dibahas di artikel ini.

Lanjutan seri ini: GEO Itu Cuma Nama Baru SEO? Ini Kata Google, Cara Cek Brand Muncul di ChatGPT dan Gemini, dan Trafik Turun, Bisnis Ikut Turun? Cara Ngukur SEO di Era AI.

FAQ

Apa bedanya SEO dan GEO?

SEO bikin halaman muncul di hasil pencarian. GEO bikin konten dikutip di jawaban AI. Keduanya jalan bareng, gak saling gantiin.

Apakah SEO udah mati?

Belum. Klik memang turun, tapi Google masih jadi sumber trafik terbesar, dan dasar-dasar SEO tetap kepake supaya bisa muncul di jawaban AI.

Perlu bayar tool khusus buat GEO?

Gak harus. Langkah awalnya bisa dikerjain sendiri: jawaban di awal, angka dan sumber, FAQ, lalu tes manual di chatbot AI.

Apakah Google Ads masih worth it?

Masih, asal diukur dari konversi dan fokus ke keyword yang udah niat beli. Yang paling kelihatan turun itu CTR di pencarian informasi.


Referensi

  1. Ahrefs (2026). Update: AI Overviews Reduce Clicks by 58%.
  2. Search Engine Land (data SparkToro dan BrightEdge). Google is still 210x bigger than ChatGPT in search.
  3. Aggarwal dkk. (2024). GEO: Generative Engine Optimization. arXiv 2311.09735, KDD 2024.
  4. Seer Interactive (2025). AIO Impact on Google CTR: September 2025 Update.
  5. TechCrunch (2025). Google is bringing ads to AI Mode.

Foto: Luke Chesser di Unsplash.